Antibiotika vs pembedahan pada peradangan usus buntu?
Peradangan usus buntu akut atau istilah medisnya apendisitis akut, merupakan kondisi yang membutuhkan tindakan pembedahan segera yang cukup banyak ditemukan dalam praktek sehari-hari seorang ahli bedah. Pasien dengan apendisitis akut dapat mencari pertolongan pada seorang ahli bedah umum maupun ahli bedah digestif.
Menjadi pertanyaan klasik yang hampir selalu ditanyakan oleh pasien dengan peradangan usus buntu akut yang datang kepada saya: ” Apakah pembedahan merupakan satu – satunya jalan dokter?” Mungkin penelitian yang dilakukan oleh Styrud J dkk. yang dipublikasikan dalam World J Surg. 2006 dapat sedikit memberikan pencerahan.
Styrud dkk. melakukan menelitian multisenter di Swedia dari tahun 1996-1999, terhadap 252 pasien dengan apendisitis akut, dan didapatkan bahwa kelompok yang diberikan antibiotika (antibiotika injeksi selama 2 hari dilanjutkan dengan oral sampai hari kesepuluh) ternyata 86% dapat membaik tanpa pembedahan , dan dalam follow up selama satu tahun dari mereka yang menjalani terapi antibiotika tanpa operasi tersebut “hanya” sebanyak 14% dalam evaluasi satu tahun kembali karena usus buntunya kembali meradang (menjadi kronis).
Menyikapi hasil penelitian tersebut biasanya saya pribadi memberikan pilihan kepada pasien. Oleh karena saat ini seorang dokter dan pasien adalah mitra yang saling bekerja sama dalam menemukan dan mengatasi penyakit yang diderita oleh pasien , dokter bukan lagi berada pada posisi manusia setengah dewa yang serba tahu yang memutuskan apa yang terbaik bagi pasien. Menurut saya pribadi dengan dasar penelitian diatas : terapi antibiotika dapat dijadikan pertimbangan bagi pasien yang menginginkan terapi tanpa pembedahan dengan informasi bahwa angka “kegagalan” dalam 24 jam mencapai 14% dan angka “kegagalan” dalam evaluasi selama satu tahun mencapai 14%. Namun, selalu saya ingatkan bahwa angka 14% yang terlihat kecil tersebut jika diterapkan pada manusia sebenarnya cukup beresiko tinggi, dan cukup membebani secara sosial dan ekonomi. Oleh sebab itu saya pribadi jika pasien pada akhirnya menyerahkan keputusan pada saya, maka saya akan menyarankan untuk lebih memilih tindakan pembedahan.
Sekali lagi, pada akhirnya “medical is science and art” ilmu kedokteran tersebut adalah ilmu dan seni, ilmunya jelas, dengan angka-angka yang tegas, namun seni penerapannya sangat fleksibel, tergantung kondisi masing-masing individu dan dokter yang mengelola, pada akhirnya kita semua tentunya berharap yang terbaik bagi pasien.
Saya setuju dengan apa yang anda jelaskan…..